Tren Penggunaan AI Generatif Dalam Media Sosial Dan Konten Digital Pada 2025
Tren Penggunaan AI – Di tahun 2025, kita memasuki era di mana ChatGPT, DALL·E, Midjourney dan alat AI sejenis telah berpindah dari eksperimen teknis ke lini depan produksi konten digital — dan berdampak besar pada cara kita membuat dan mengonsumsi konten di media sosial.
Menurut laporan dari Hootsuite, generative AI kini bukan sekadar “alat tambahan”, melainkan bagian penting dari strategi media sosial, terutama dalam menghadirkan volume konten tinggi dengan cepat. Hootsuite
Di sisi lain, sebuah studi akademis menemukan adanya fenomena “AI-slop” — konten yang dihasilkan oleh AI dengan kualitas rendah tapi dibanjiri algoritma karena produksi massal dan kemiripan visual yang cukup untuk menarik perhatian Tren Penggunaan AI. arXiv
Kenapa sekarang? Mengapa tren ini meledak
Terdapat beberapa faktor yang membuat penggunaan AI generatif jadi sangat relevan sekarang:
- Tekanan dalam industri konten: merek, kreator, dan agensi dituntut untuk menghasilkan postingan, video, stories, reels dalam frekuensi yang sangat tinggi — menurut Hootsuite, konten di media sosial untuk sebagian besar organisasi sekarang “lebih banyak bersifat hiburan, edukasi, atau informatif” dibanding promosi langsung. Hootsuite
- Alat AI makin mudah diakses dan murah: sebelumnya generative AI masih “ceruk” khusus, sekarang banyak platform yang menawarkan pembuatan teks, gambar, video, hingga voice-over otomatis Tren Penggunaan AI.
- Algoritma mendukung kecepatan dan volume: karena algoritma platform sering menyorot konten baru, segar, dan cepat, maka produksi cepat menjadi keunggulan kompetitif — ini membuka ruang bagi konten AI untuk tampil.
- Kreativitas sebagai pembeda: Menurut laporan dari Later, pada 2025 terjadi pergantian tren di mana “konten bentuk panjang” mulai kembali naik, serta “storytelling yang kurang linier” menjadi bagian strategi konten Tren Penggunaan AI. Later
Dampak terhadap pembuat konten dan pengguna
Bagi pembuat konten / merek:
- Kekurangan produksi bisa diatasi dengan AI: mereka bisa menggunakan AI untuk generate draft, visual, atau bahkan video pendek, kemudian edit manual sesuai brand Tren Penggunaan AI.
- Persaingan makin ketat: karena banyak pihak yang mulai memanfaatkan AI, maka standar kecepatan dan volume meningkat — jika hanya mengandalkan konten tradisional mungkin kalah saing.
- Risiko kreatif dan autentisitas: konten yang terlalu “terlalu generik” atau dirasa hasil AI tanpa sentuhan manusia dapat menurunkan engagement atau dianggap kurang otentik oleh audiens Tren Penggunaan AI.
Bagi audiens / pengguna:
- Lebih banyak konten muncul di feed: dari meme, video, gambar hingga postingan yang seakan-otomatis muncul — kadang sulit membedakan yang dibuat manusia vs buat oleh AI.
- Kualitas bisa naik atau turun: jika kreator memanfaatkan AI hanya sebagai bantu, hasilnya bisa sangat menarik. Tapi jika hanya “copy-paste AI”, bisa jadi terasa datar atau repetitif Tren Penggunaan AI.
- Tantangan dalam keaslian dan etik: muncul pertanyaan-pertanyaan seperti “siapa pembuatnya?”, “apakah ini AI generated?”, atau “apakah saya sedang melihat manipulasi visual?”—sebuah isu yang makin mendapat perhatian Tren Penggunaan AI.
Contoh konkret tren yang muncul
- Salah satu tren yang muncul adalah penggunaan format video pendek atau “transformation videos” di platform seperti TikTok — yaitu video yang menunjukkan perubahan drastis (sebelum/ setelah) dibuat lebih cepat dengan bantuan AI untuk efek visual atau editing cepat. SendShort
- Merek dan tim media sosial mulai “menjajal” suara dan persona berbeda di postingan mereka — yaitu mencampur voice brand mereka dengan karakter yang lebih bebas agar cocok dengan feed sosial, sesuatu yang disebut “Creative Disruption Trend”. Hootsuite
- Konten kreator non-media besar juga bisa “menjebol” algoritma lewat AI: dengan memproduksi banyak micro konten yang relevan, berdasarkan data sosial-listening, mereka bisa muncul dalam feed dan memperoleh jangkauan tinggi Tren Penggunaan AI.
Tantangan dan risiko yang perlu diperhatikan
- Etika dan transparansi: Apakah konten yang dibuat AI harus diberi label? Ketika foto, video, atau suara seseorang dibuat ulang oleh AI, muncul pertanyaan soal hak cipta, orisinalitas, dan izin.
- Kejenuhan audiens: Jika terlalu banyak konten AI yang “terasa sama”, maka pengguna bisa merasa bosan atau skeptis terhadap brand yang “terlalu otomatis”.
- Algoritma yang berubah cepat: Studi menunjukkan bahwa model prediksi popularitas konten mudah goyah karena tren sosial berubah sangat cepat — hal ini menjadi tantangan bagi pembuat konten yang mengandalkan formula. arXiv
- Kualitas vs kuantitas: Volume tinggi bagus, tapi jika kualitas rendah bisa malah merusak merek atau mengurangi engagement jangka panjang Tren Penggunaan AI.
Strategi yang direkomendasikan untuk memanfaatkan tren ini
- Gunakan AI sebagai alat, bukan solusi tunggal: Biarkan AI membantu draft atau editing cepat, tapi tetap tambahkan sentuhan manusia (storytelling, voice merek, authenticasi) agar konten tidak terasa massal atau generik.
- Lakukan sosial-listening dan eksperimen konten: Manfaatkan tren-tren mikro, dengarkan bahasa audiens Anda, uji bentuk konten baru (misalnya bentuk panjang, cerita interaktif) — sesuai dengan rekomendasi dari Hootsuite dan Later Tren Penggunaan AI. Hootsuite+1
- Jaga keseimbangan antara originalitas dan kecepatan: Produksi cepat penting, tapi jangan sampai mengorbankan kualitas atau relevansi. Konten yang terasa otentik dan relevant akan lebih tahan lama.
- Pantau perubahan algoritma dan adaptasi: Karena platform terus berevolusi (misalnya gaya feed, durasi video, integrasi AI), pembuat konten harus fleksibel dan siap beradaptasi.
- Transparansi dan kepercayaan: Jika menggunakan AI secara signifikan dalam konten, pertimbangkan untuk memberi tahu audiens atau setidaknya menjaga standar kejujuran. Hal ini dapat membantu membangun kepercayaan jangka panjang Tren Penggunaan AI.
Tren penggunaan AI generatif dalam konten media sosial bukan sekadar mode sesaat — ini adalah perubahan struktural dalam cara konten dibuat, disebarluaskan, dan dikonsumsi. Di tahun 2025, kita berada di persimpangan antara kecepatan produksi, ekspektasi audiens yang terus naik, dan kebutuhan untuk mempertahankan keaslian serta relevansi. Pembuat konten, merek, dan bahkan pengguna harus menavigasi lanskap ini dengan cerdas: memanfaatkan kekuatan AI, tapi tidak kehilangan sisi manusiawi yang membuat konten benar-benar “mengena” Tren Penggunaan AI.






