Aktualisasi Fitrah Manusia untuk Membangun Wawasan Masa Depan yang Berkelanjutan

Di penghujung abad ke-20, kita menyaksikan perubahan yang sangat dramatis dalam berbagai aspek kehidupan, khususnya dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dunia seolah bertransformasi menjadi sebuah komunitas global yang saling terhubung berkat kemajuan dalam teknologi komunikasi. Informasi mengenai peristiwa yang terjadi di belahan dunia lain, seperti Afrika Selatan, dapat kita akses dalam hitungan detik setelah peristiwa tersebut. Keberadaan komunikasi modern telah menghapus batasan-batasan yang sebelumnya ada, sehingga kita hidup dalam era transparansi yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Abad Penuh Tantangan
Namun, di balik kemajuan tersebut, abad ini juga diwarnai dengan konflik yang berkepanjangan. Dua Perang Dunia yang mengguncang dunia menyebabkan jutaan nyawa melayang dan mengakibatkan penderitaan yang mendalam. Setelahnya, kita juga menyaksikan ketegangan global yang berkepanjangan selama Perang Dingin, yang hampir membawa dunia ke ambang Perang Dunia III. Di akhir abad ini, kita juga menyaksikan runtuhnya komunisme, yang sebelumnya dianggap sebagai alternatif bagi sistem kapitalisme yang sering dianggap menindas. Seperti yang diungkapkan oleh Aleksandr Solzhenitsyn, seorang sastrawan dan pemikir Rusia, “Komunisme sudah tidak berbunyi lagi.”
Mencari Jati Diri
Di tengah dinamika tersebut, umat Islam, meskipun sebagian besar telah meraih kemerdekaan dari penjajahan, masih bergelut untuk menemukan identitas dan jati diri mereka sebagai individu beriman. Hati mereka belum sepenuhnya terbuka untuk memahami dan mengamalkan pesan Al-Qur’an yang menyatakan bahwa semua manusia beriman itu bersaudara. Konsep persaudaraan ini, yang seharusnya menjadi dasar bagi umat Islam, seringkali diabaikan, sehingga mengakibatkan penderitaan kolektif yang berkepanjangan.
Pengabaian Prinsip Persaudaraan
Sayangnya, umat Islam tampak mencari berbagai alasan untuk mengabaikan prinsip persaudaraan ini dalam waktu yang cukup lama, yang hanya menghasilkan penderitaan dan ketidakpastian. Kesadaran mereka akan pentingnya hubungan antarsesama umat Muslim seakan terabaikan, membuat mereka kehilangan arah dan kompas moral. Dalam konteks ini, kita harus memahami betapa pentingnya untuk saling mendukung dan menjaga persatuan di antara satu sama lain.
Ketertinggalan dalam Ilmu dan Teknologi
Sementara itu, dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, kita menyaksikan bahwa pihak lain telah melaju jauh di depan. Meski beberapa negara Muslim kaya akan sumber daya alam, kemampuan untuk mengelolanya masih sangat terbatas. Kita masih tergantung pada negara-negara dengan teknologi maju, dan ini adalah kenyataan yang telah berlangsung selama beberapa dekade. Negara-negara maju memang ingin agar umat Islam tetap berada dalam posisi ketergantungan ini. Ketika kita beranjak dari posisi tersebut, kemungkinan besar mereka tidak akan lagi bisa mendikte dan mengeksploitasi kita. Oleh karena itu, sangatlah mendesak bagi umat Islam untuk mengaktualisasikan potensi fitrahnya agar memiliki posisi yang terhormat dalam percaturan global.
Menuju Kemerdekaan yang Sebenarnya
Sejarah menunjukkan bahwa kita telah melewati tahap perjuangan untuk memperoleh kemerdekaan. Saat ini, sebagian besar negara Islam telah meraih kemerdekaan formal. Namun, dalam sektor ekonomi dan teknologi, kita belum sepenuhnya berdikari. Ini adalah tahap perjuangan kedua yang membutuhkan waktu dan strategi budaya yang lebih visioner. Kita harus memikirkan pertimbangan rasional dan moral dalam menyusun strategi ini agar saling mendukung dan membawa kemajuan.
Pembangunan Berkelanjutan
Pembangunan yang kita cita-citakan tidak hanya dapat diukur dari pertumbuhan ekonomi semata, tetapi juga harus melibatkan pembangunan manusia secara menyeluruh. Filsafat perjuangan kita mengajarkan bahwa yang kita inginkan bukan hanya kebebasan dari penindasan asing, tetapi juga kebebasan dari segala bentuk penindasan. Fitrah manusia hanya dapat berkembang dalam iklim kebebasan dan kemerdekaan yang nyata. Betapa berartinya nilai sebuah kebebasan yang bertanggung jawab, bukan kebebasan yang merusak.
Menjadi Cerdas dan Cergas
Dalam menghadapi tantangan ini, satu-satunya jalan bagi umat Islam adalah untuk tampil sebagai umat yang cerdas dan responsif, baik dalam skala nasional maupun global. Kecerdasan adalah lawan dari kebodohan, dan kebodohanlah yang menjadi penyebab utama kita dijajah di masa lalu. Kebodohan dapat menjadi sumber kehinaan dan rasa rendah diri. Islam tidak mungkin berjaya jika umatnya masih terperangkap dalam kebodohan dan ketertinggalan.
Perintah untuk Mempelajari
Di sinilah letak makna dari perintah pertama yang diturunkan dalam Al-Qur’an, yaitu perintah untuk membaca (iqra). Perintah ini adalah simbol peradaban yang tinggi dan beretika. Namun, mengapa umat Islam di masa lalu mau hidup dalam kebodohan? Ini adalah keteledoran sejarah yang tidak boleh terulang. Sebelum mengalami kebodohan, umat Islam pernah memimpin peradaban yang paling maju selama enam abad, berkat penerapan ajaran iqra dalam semua aspek kehidupan.
Kebangkitan Kesadaran
Memasuki akhir abad ke-19, umat Islam mulai menyadari kesalahan sejarah yang telah terjadi. Saat ini, kita sedang dalam proses untuk menjadi cerdas dan kreatif. Seorang penulis pernah menyatakan bahwa kekayaan yang kita cari tidak terletak pada sumber daya alam atau jumlah penduduk, melainkan pada semangat dan kemampuan manusia untuk berpikir serta mencipta. Ini adalah kunci untuk mencapai kemajuan yang sejati.
Kekayaan yang Sesungguhnya
Bumi yang kaya dengan sumber daya dan populasi yang besar tidak menjamin kekayaan suatu bangsa. Sebuah bangsa hanya dapat berhasil jika warganya memiliki kemampuan tinggi dalam berpikir dan berinovasi. Jika hanya mengandalkan jumlah penduduk yang besar, tanpa adanya partisipasi aktif, maka hal tersebut justru bisa menjadi beban bagi peradaban. Tanggung jawab kita bersama adalah untuk mempercepat proses menuju posisi yang terhormat dalam percaturan dunia.
Aktualisasi Potensi Fitrah
Potensi fitrah kita tidak boleh disia-siakan untuk hal-hal yang tidak bermakna. Kesungguhan dan dedikasi dalam belajar dan bekerja harus menjadi fokus utama kita. Kita harus menatap masa depan dengan penuh keyakinan, namun tetap berserah kepada Allah dan prinsip kebenaran. Hidup ini terlalu singkat untuk dipermainkan. Dengan sikap yang penuh pertimbangan, semoga umat Islam mampu memasuki abad ke-21 dengan rasa percaya diri yang tinggi. Kita harus meninggalkan budaya hidup yang malas dan berkomitmen untuk berpikir serta bertindak besar.